| |
Maafkan aku yang mengirim gerhana ke dalam arlojimu,
sebab hujan tak juga reda dan malam tak kunjung beranjak
di pucuk pohon, kita mengigil membayangkan ajal
menyaksikan kota compang camping
banyak tubuh rebah
angin bertiup kencang
Kita bergayut cemas pada ranting kecil
tanah penuh lumpur
jalanan menjelma kubangan
orang-orang melaju dalam hujan
jadi, maafkan aku mengirim kabut
ke dalam mimpimu
sebab angin terus bertiup
dan malam makin gelap
Merdeka bung!!!!
| | |
|
|